Jumat, 02 Juli 2010

"AKHLAK MALU DAN IMAN"

"Rasa "malu" merupakan sebagian dari "iman" yang menjadi akidah dan pedoman hidup kaum Muslimin."

Hadits Riwayat Bukhari Muslim, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Iman" itu ada tujuh atau enam puluh cabangnya. Yang paling utama ialah La ilaha Illallah (tidak ada Tuhan selain Allah). Yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan "malu" itu satu cabang dari "iman".


Hadits Riwayat Hakim, sahih berdasarkan syarat Bukhari Muslim, menjelaskan, Rasulullah SAW bersabda: "Malu" dan "iman" itu dua bagian yang tak dapat dipisahkan. Apabila yang satu hilang maka yang lain pun turut hilang."


Alasan mengapa "malu" merupakan bagian dari "iman", karena "malu" dan "iman" sama-sama menyeru kepada kebajikan dan menolak yang munkar. "Iman" merupakan daya pembangkit bagi orang Mukmin untuk berbuat ketaatan dan meninggalkan maksiat.


Rasa "malu" selalu membimbing orang untuk bersyukur kepada Allah SWT, dan mencegah berbuat buruk atau mengatakannya, karena takut mendapat celaan dan cercaan. Dengan demikian rasa "malu" akan mendatangkan kebaikan sebagaimana Hadits Riwayat Bukhari Muslim sebagai berikut: "Malu" itu tidak datang, kecuali dengan kebaikan."
Dan Hadits Riwayat Bukhari Muslim yang lain: "Malu" itu semuanya baik."


Sedangkan yang kontradiksi dengan "malu" adalah kotor dan keji (tidak punya "malu"), yaitu kotor dalam perkataan, perbuatan dan berkata kasar. Orang Muslim tidak akan berkata kotor dan kasar, tidak pula keras dan bengis, karena sifat-sifat itu adalah sifat-sifat ahli neraka, sedangkan orang Muslim Insya'Allah adalah ahli surga. Sebagaimana Hadits Riwayat Ahmad dengan sanad sahih, menjelaskan Rasulullah SAW bersabda: "Malu" itu sebagian dari "iman". Dan "iman" itu berada dalam surga, sedang kata-kata keji itu sebagian dari kasar dan bengis. Kebengisan itu berada dalam neraka."


Akhlak Rasulullah SAW merupakan teladan setiap Muslimin, dan beliau sangat pe"malu" terhadap gadis, karena khawatir bahaya yang ditimbulkan. Hal ini sebagaimana Hadits Bukhari dari Abu Sa'id al-Khudri: "Apabila Nabi SAW melihat sesuatu yang dibencinya, maka akan kita ketahui dari wajahnya."


Orang Muslimin yang mengajak untuk memelihara rasa "malu" dan menanamkannya pada diri mereka, berarti ia menganjurkan untuk berbuat kebaikan. Karena "malu" sebagian dari "iman", yang merupakan kumpulan segala keutamaan dan unsur segala kebaikan. Sebuah Hadis sahih Riwayat Muttafaq 'alaih, menyebutkan bahwa Rasulullah SAW lewat di depan seorang laki-laki yang sedang memberi nasihat kepada saudaranya tentang "malu", maka Rasulullah SAW bersabda: "Tinggalkanlah ia, karena "malu" itu sebagian dari "iman".


Rasulullah menyuruh untuk menanamkan rasa "malu" pada diri kaum Muslim dan melarang membuangnya.

Seorang Muslim lebih baik kehilangan hartanya dari pada kehilangan rasa "malu", karena "malu" merupakan bagian dari ke"iman"annya untuk berbuat kebaikan. Allah merahmati seorang perempuan yang kehilangan anaknya yang kecil. Perempuan itu pergi ke suatu kaum menanyakan tentang anaknya. Salah seorang dari mereka berkata: Perempuan itu mencari anaknya, tapi ia pakai kerudung. Mendengar itu perempuan tersebut menjawab: Hai laki-laki! Bagiku lebih baik kehilangan anak dari pada hilangnya rasa "malu" pada diriku.


Rasa "malu" pada seorang Muslim tidak akan menghalanginya untuk mengatakan yang hak, mencari ilmu atau amar ma'ruf nahi munkar. Suatu ketika Usamah bin Zaid, orang yang dicintai Nabi SAW meminta tolong kepada beliau dalam suatu masalah, Rasulullah tidak "malu"-"malu" mengatakan kepada Usamah dengan nada marah, sebagaimana Hadits Riwayat Muttafaq 'alaih: "Apakah kamu mau minta pertolonganku untuk menghindarkan dari hukum yang ditentukan Allah hai Usamah? Demi Allah, jika si Fulanah (seorang perempuan) mencuri, pasti akan dipotong tangannya."


Rasa "malu" juga tidak menghalangi Ummu Sulaim al-Ansariah untuk mengatakan kepada Nabi SAW, sebagaimana dijelaskan Hadits Riwayat Bukhari: Ya Rasulullah! Sesungguhnya Allah tidak "malu" untuk menyatakan yang hak. Apakah perempuan wajib mandi jika ia bermimpi? Nabi SAW menjawab: "Benar! jika dia melihat ada air (mani perempuan)."


Seorang Muslim tidak boleh "malu" untuk mempertahankan hak sesamanya. Dan seorang Muslim juga tidak boleh "malu" untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada orang lain.


Kaum Muslimin yang memiliki rasa "malu" tidak akan membuka auratnya, mengabaikan kewajiban, menolak yang makruf yang disodorkan orang kepadanya, dan tidak akan bicara yang tidak baik serta tidak akan menghadapi orang dengan cara yang tidak menyenangkan. Orang Muslim akan "malu" kepada Sang Khalik. Ia akan taat kepada-Nya dan mensyukuri nikmat-Nya. Hal itu dikarenakan kekuasaan dan ilmu Allah. Seperti yang dikatakan Ibn Mas'ud yang dijelaskan dalam Hadits Riwayat Munziri, hadits marfu: "Malu"lah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Peliharalah kepalamu dan apa yang disadarinya. Peliharalah perut dan yang dikandungnya serta ingatlah akan mati dan kehancuran."


Hadits Riwayat Bukhari juga menjelaskan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Allah lebuh berhak agar kamu "malu" kepada.Nya dari pada manusia."


Marilah kita sama-sama memelihara rasa "malu" kita masing-masing, supaya ke"iman"an kita dapat meningkat sehingga kita menjadi ahli surga. Insya'Allah...............

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar